Search This Blog

/* Circle Text Styles */ #outerCircleText { /* Optional - DO NOT SET FONT-SIZE HERE, SET IT IN THE SCRIPT */ font-style: italic; font-weight: bold; font-family: 'comic sans ms'; color: #FF0000; /* End Optional */ /* Start Required - Do Not Edit */ position: absolute;top: 0;left: 0;z-index: 3000;cursor: default;} #outerCircleText div {position: relative;} #outerCircleText div div {position: absolute;top: 0;left: 0;text-align: center;} /* End Required */ /* End Circle Text Styles */ /* Circling text trail- Tim Tilton Website: http://www.tempermedia.com/ Visit: http://www.dynamicdrive.com/ for Original Source and tons of scripts Modified Here for more flexibility and modern browser support Modifications as first seen in http://www.dynamicdrive.com/forums/ username:jscheuer1 - This notice must remain for legal use */ ;(function(){ // Your message here (QUOTED STRING) var msg = "Tutorial Blog"; /* THE REST OF THE EDITABLE VALUES BELOW ARE ALL UNQUOTED NUMBERS */ // Set font's style size for calculating dimensions // Set to number of desired pixels font size (decimal and negative numbers not allowed) var size = 24; // Set both to 1 for plain circle, set one of them to 2 for oval // Other numbers & decimals can have interesting effects, keep these low (0 to 3) var circleY = 0.75; var circleX = 2; // The larger this divisor, the smaller the spaces between letters // (decimals allowed, not negative numbers) var letter_spacing = 5; // The larger this multiplier, the bigger the circle/oval // (decimals allowed, not negative numbers, some rounding is applied) var diameter = 10; // Rotation speed, set it negative if you want it to spin clockwise (decimals allowed) var rotation = 0.4; // This is not the rotation speed, its the reaction speed, keep low! // Set this to 1 or a decimal less than one (decimals allowed, not negative numbers) var speed = 0.3; ////////////////////// Stop Editing ////////////////////// if (!window.addEventListener && !window.attachEvent || !document.createElement) return; msg = msg.split(''); var n = msg.length - 1, a = Math.round(size * diameter * 0.208333), currStep = 20, ymouse = a * circleY + 20, xmouse = a * circleX + 20, y = [], x = [], Y = [], X = [], o = document.createElement('div'), oi = document.createElement('div'), b = document.compatMode && document.compatMode != "BackCompat"? document.documentElement : document.body, mouse = function(e){ e = e || window.event; ymouse = !isNaN(e.pageY)? e.pageY : e.clientY; // y-position xmouse = !isNaN(e.pageX)? e.pageX : e.clientX; // x-position }, makecircle = function(){ // rotation/positioning if(init.nopy){ o.style.top = (b || document.body).scrollTop + 'px'; o.style.left = (b || document.body).scrollLeft + 'px'; }; currStep -= rotation; for (var d, i = n; i > -1; --i){ // makes the circle d = document.getElementById('iemsg' + i).style; d.top = Math.round(y[i] + a * Math.sin((currStep + i) / letter_spacing) * circleY - 15) + 'px'; d.left = Math.round(x[i] + a * Math.cos((currStep + i) / letter_spacing) * circleX) + 'px'; }; }, drag = function(){ // makes the resistance y[0] = Y[0] += (ymouse - Y[0]) * speed; x[0] = X[0] += (xmouse - 20 - X[0]) * speed; for (var i = n; i > 0; --i){ y[i] = Y[i] += (y[i-1] - Y[i]) * speed; x[i] = X[i] += (x[i-1] - X[i]) * speed; }; makecircle(); }, init = function(){ // appends message divs, & sets initial values for positioning arrays if(!isNaN(window.pageYOffset)){ ymouse += window.pageYOffset; xmouse += window.pageXOffset; } else init.nopy = true; for (var d, i = n; i > -1; --i){ d = document.createElement('div'); d.id = 'iemsg' + i; d.style.height = d.style.width = a + 'px'; d.appendChild(document.createTextNode(msg[i])); oi.appendChild(d); y[i] = x[i] = Y[i] = X[i] = 0; }; o.appendChild(oi); document.body.appendChild(o); setInterval(drag, 25); }, ascroll = function(){ ymouse += window.pageYOffset; xmouse += window.pageXOffset; window.removeEventListener('scroll', ascroll, false); }; o.id = 'outerCircleText'; o.style.fontSize = size + 'px'; if (window.addEventListener){ window.addEventListener('load', init, false); document.addEventListener('mouseover', mouse, false); document.addEventListener('mousemove', mouse, false); if (/Apple/.test(navigator.vendor)) window.addEventListener('scroll', ascroll, false); } else if (window.attachEvent){ window.attachEvent('onload', init); document.attachEvent('onmousemove', mouse); }; })();
#gb{ position:fixed; top:10px; z-index:+1000; } * html #gb{position:relative;} .gbcontent{ float:right; border:2px solid #A5BD51; background:#ffffff; padding:10px; } function showHideGB(){ var gb = document.getElementById("gb"); var w = gb.offsetWidth; gb.opened ? moveGB(0, 30-w) : moveGB(20-w, 0); gb.opened = !gb.opened; } function moveGB(x0, xf){ var gb = document.getElementById("gb"); var dx = Math.abs(x0-xf) > 10 ? 5 : 1; var dir = xf>x0 ? 1 : -1; var x = x0 + dx * dir; gb.style.top = x.toString() + "px"; if(x0!=xf){setTimeout("moveGB("+x+", "+xf+")", 10);} }
.:[Close][Klik 2x]:.
var gb = document.getElementById("gb"); gb.style.center = (30-gb.offsetWidth).toString() + "px";

Monday, December 24, 2012

Konsep Income Dalam Pelaporan Informasi Keuangan (Teori Akuntansi)

Tujuan pelaporan net income

Tujuan utama pelaporan income, adalah untuk memberikan informasi kepada mereka yang menaruh minat terhadap laporan keuangan. Salah satu dari tujuan dasar megasumsikan bahwa yang paling bagi semua pemakai laporan adalah kebutuhan untuk membedakan invested capital dan income – perbedaan antara stock dan flows – sebagai bagian dari proses deskriptifnya akuntansi. Tujuan-tujuan yang lebih khusus meliputi pemakaian income sebagai pengukuran efisiensi manajemen, pemakaian angka-angka historical income untuk membantu meramalkan masa depan perusahaan atau dividen diwaktu yang akan datang, dan pemakaian income sebagai pengukuran keberhasilan dan pedoman mengenai keputusan-keputusan manajerial dimasa yang akan datang.
Konsep-konsep income pada tingkat sintaktis
            Menurut pendapat sintaktis, laba didefinisikan sebagai selisih antara pendapatan dan beban-beban. Laba dianggap telah timbul bila terjadi kenaikan nilai dari kekayaan bersih sebagai akibat adanya transaksi. Terdapat dua pendekatan yang dipakai dalam mengukur income, yakni pendekatan transaksi (transactions approach) dan pendekatan kegiatan (activities approach).
            Menurut pendekatan transaksi, laba telah timbul pada saat terjadinya transaksi. Khususnya transaksi eksternal, yaitu transaksi yang terjadi dan melibatkan pihak luar. Laba dapat timbul pada saat terjadinya transaksi pertukaran/penjualan dan terjadinya pengakuan beban. Berikut ini beberapa contoh transaksi eksternal yang dapat menimbulkan laba:
            Cash                                        xxx
                        Sales                                        xxx
            Account Receivable                xxx
                        Sales                                        xxx
            Cost of Goods Sold                xxx
                        Mercahandise inventory          xxx

Beberapa keuntungan dari pendekatan transaksi, yaitu: (1) komponen atau unsur-unsur net income dapat diklasifikasikan dengan beberapa cara, misalnya menurut jenis-jenis produk atau langganan, untuk memberikan informasi yang lebih berguna bagi manajemen. (2) income yang berasal dari berbagai sumber, dapat dilaporkan secara terpisah, apabila dapat diukur. (3) efisiensi perusahaan memerlukan pencatatan transaksi-transaksi ekstern bagi keperluan-keperkuan lain.
            Prosedur umum dalam pendekatan transaksi adalah mencatat revenue dan expenses pada saat terjadinya berdasarkan transaksi-transaksi esktern. Masalah timing dan valuation memang dihadapi dalam pencatatan setiap transaksi, namun masalah utama difokuskan kepada proper matching antara expenses denga revenue yang berkaitan dengan expenses tersebut yang dilaporkan untuk suatu periode tertentu.
            Pendekatan kegiatan (activities approach) berbeda dari pendekatan transaksi karena pendekatan kegiatan memusatkan perhatian kepada deskripsi daripada kegiatan perusahaan dan bukan pada pelaporan transaksi. Income dianggap timbul pada saat terjadinya kegiatan atau peristiwa tertentu dan bukan sekedar pada saat terjadinya suatu transaksi. Misalnya, activity income dapat dicatat pada berbagai kegiatan seperti : perencanaan, pembelian, produksi, proses penjualan dan mungkin juga pada proses penagihan. Dalam penerapannya, pendekatan ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari pendekatan transaksi karena ia memulai dari transaksi sebagai dasar pengukuran. Perbedaannya adalah pendekatan transaksi didasarkan pada kepada proses pelaporan yang mengukur peristiwa ekstern, yaitu transaksi; sedangkan pendekatan kegiatan didasarkan kepada konsep real-world mengenai kegiatan atau peristiwa dalam arti yang luas. Namun demikian kedua pendekatan ini tidak mencerminkan kenyataan karena kedua-duanya tergantung kepada hubungan-hubungan structural yang sama dan kepada konsep-konsep yang tidak mempunyai real-world counterpart.
            Salah satu keuntungan yang diasumsikan dalam pendekatan kegiatan adalah dimungkinkannya dipergunakan bermacam-macam konsep income untuk tujuan-tujuan yang berbeda. Income yang timbul dari produksi dan penjualan barang melibatkan jenis-jenis evaluasi dan prediksi yang berbeda dari pembelian dan penjualan surat-surat berharga atau dari menahan suatu asset untuk mendapatkan capital gain. Efisiensi manajemen dapat diukur dengan lebih baik apabila komponen atau unsur-unsur income diklasifikasikan sesuai dengan jenis-jenis kegiatan yang berbeda-beda yang kurang atau lebih dapat dikendalikan oleh manajemen.
Konsep-konsep income pada tingkat semantic
            Pengukuran akuntansi terhadap earnings harus mengakui gagasan ekonomi mengenai “betters-offness” tetapi harus diarahkan khususnya kepada suksesnya perusahaan dalam menggunakan cash untuk menghasilkan maximum cash. “better-offness” merupakan konsep capital maintenance, sedangkan usaha memaksimumkan cash merupakan bentuk lain dari pada konsep profit maximization atau pengukuran efisiensi.
            Seorang ahli ekonomi yang bernama Irving Fisher membedakan pengertian capital dari pengertian income. Capital menurut Fisher adalah suatu stock of wealth pada suatu saat, sedangkan income merupakan flow of services sepanjang waktu. Capital merupakan perwujudan dari future services sedangkan income adalah kenikmatan dari services ini selama suatu masa tertentu. Perumpamaan tanki menara air maka capital merupakan air yang berada dalam tanki, sedangkan income merupakan air yang mengalir keluar tanki sela suatu periode.
            Suatu perusahaan tidak di dirikan untuk tujuan kenikmatan. Tujuan perusahaan adalah memberikan flow of wealth bagi kepentingan pemegang saham atau beneficiaries-nya. Capital adalah stock of wealth yang dapat memberikan future service, sedangkan income dapat dipandang sebagai flow of wealth atau  flow of services diatas jumlah yang diperlukan untuk mempertahankan capaital yang konstan (dari sinilah datang istilah capital maintenance).
            Perubahan-perubahan dalam capital dapat mempengaruhi arus uang kepada pemegang common stock dikemudian hari dan oleh karenanya juga akan mempengaruhi equity-nya pada saat-saat setelah perubahan tersebut terjadi. Selain itu, perubahan capital akan membawa pengaruh terhadap perimbangan antara berbagai equity holders, misalnya hubungan (besarnya) equity pemegang common stock terhadap pemegang preferred stock atau pemegang bonds.
            Para pemegang common stock bukan saja menaruh perhatian terhadap berapa yang bisa mereka peroleh dari perusahaan dalam periode berikut; tetapi juga kepada perubahan-perubahan dalam kemampuan perusahaan untuk memberikan arus uang dimasa depan. Pemegang saham yang sekarang tidak hanya menaruh perhatian kepada perusahaan untuk mempertahankan dividen, tetapi juga mengenai potensi-potensi pertumbuhannya. Contoh penjualan saham dalam tahun-tahun pertama perusahaan kereta api di Amerika Serikat. Para promotor penjualan saham pada waktu itu tidak segan-segan membayar dividen yang besar. Para investor mengira bahwa dividen adalah hasil daripada income yang sebenarnya, dan karenanya mereka bersedia membayar harga saham yang tinggi. Belakangan mereka baru menyadari bahwa dividen yang tinggi itu tidak lain daripada pengemabalian atau penurunan capital yang juga berarti penurunan terhadap kemampuan membayar dividen dikemudian hari.
            Dengan pemisahan antara pemilikan dan pengendalian perusahaan-perusahaan besar, akuntansi mempunyai tanggung jawab melaporkan stewardship daripada manajemen yang diberi kepercayaan untuk menggunakan capital yang ditanam. Pembedaan antara income dan perubahan-perubahan capital penting untuk menentukan apakah manajemen telah melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya oleh pemilik.
            Konsep wealth maintenance juga penting bagi pemberi utang jangka panjang maupun   jangka pendek, dan para pemegang preferred stock yang berkepentingan untuk megetahui apakah perusahaan dapat memenuhi kewajibannya pada suatu saat dikemudian hari. Para kreditur tidak selamanya dapat dilindungi dari kemungkinan rugi, namun apabila ada disclosure yang cukup, mereka dapat menentukan sikap sebelum segala sesuatunya menjadi terlambat.
            Capital didefinisikan dalam satuan uang pada saat ini (current monetary unit), dalam satuan-satuan fisik, dalam satuan kapasitas produksi, atau dalam pengertian harapan-harapan dimasa yang akan datang tentang arus uang bagi pemilik. Masalah-masalah yang dihadapi dalam pengukuran capital dan income lebih besar lagi.
            Konsep wealth maintenance yang diterapkan pada pengertian income dapat dilihat pada pandangan Adam Smith: “income adalah jumlah yang dapat dikonsumsi tanpa mengganggu capital”. Hicks memperjelas gagasan ini dengan mengatakan bahwa: “income adalah jumlah yang dapat dikonsumsi seseorang dalam suatu periode tanpa mempengaruhi keadaan orang tersebut pada akhir periode dibandingkan dengan keadaannya pada awal tahun”. Apabila keadaan orang tersebut pada akhir periode tidak berbeda dengan keadaannya pada awal periode, orang tersebut disebut “as well off” pada akhir tahun seperti pada awal tahun. Inilah konsep well offness atau better-offness yang dipinjam dari teori ekonomi.
            Kalau diterapkan pada akuntansi, harus mengukur keadaan perusahaan pada awal dan akhir periode, kemudian bandingkan keadaan pada kedua titik waktu. Apabila keadaan awal periode sama dengan pada akhir periode, ini disebut “as well off”. Apabila keadaan pada akhir periode lebih jelek daripada awal periode, perusahaan tersebut “better off”. Apabila keadaan pada akhir periode lebih jelek daripada awal periode, ini disebut “worse off”. Pengukuran keadaan pada awal dan akhir periode dapat dilakukan dengan konsep-konsep yang berikut :
1.      Capitalization
2.      Market valuation                                                          
3.      Current cash equivalent                                              konsep mempertahankan modal
4.      Historical input prices                                     (capital maintenance)
5.      Current input prices
6.      Maintenance of constant purchasing power
Dalam konsep capitalization, net assets pada awal dan akhir periode dihitung dengan cara mengapitalisasi semua arus kas dari perusahaan kepada pemilik yang diharapkan dimasa-masa mendatang. Nilai yang dikapitalisasi merupaka present value (nilai sekarang) dari arus kas yang diharapkan dimasa-masa mendatang sepanjang umur perusahaan. Jadi didalam perhitungan ada tiga factor yang harus ditaksir, yaitu jumlah arus kas yang diharap akan dibayarkan setiap tahunnya, jumlah sisa umur perusahaan dan tingkat discount yang akan dipakai.
            Kesimpulan daripada konsep ini adalah (1)Tingkat bunga subjektif yang dikalikan dengan nilai kapitalisasi perusahaan. Bagian income merupakan fungsi daripada waktu, tingkat bunga atau discount, dan taksiran mengenai arus kas dikemudian hari. Taksiran mengenai arus kas dapat dipengaruhi oleh produksi dan penjualan sekarang, maupun oleh produksi dan penjualan dimasa yang akan datang. (2)Perubahan-perubahan dalam taksiran arus kas yang timbul dari perubahan terhadap penilaian efisiensi manajemen atau harapan-harapan mengenai keadaan ekonomi. Perubahan ini juga dapat diakibatkan oleh sikap pesimisme atau optimism. (3) Perbedaan antara kas yang sebenarnya tersedia dengan yang ditaksir, dapat terjadi karena adanya windfall gains/losses yang diakibatkan oleh factor-faktor ekstern maupun kesalahan perhitungan dalam membuat taksiran semula.
            Kelemahan-kelemahan daripada konsep capitalization adalah (1) Harapan-harapan mengenai arus kas dikemudian hari tidak dapat dikonversikan dalam nilai-nilai tunggal (single values) atau certainty equivalents tanpa mengetahui preferensi resiko dari pemakai informasi; adjustment untuk menampung resiko dalam penentuan tingkat diskonto yang subjektif (subjective discount rate) sebenarnya keliru. (2) Penekanan diberikan kepada factor waktu dan arus kas yang diharapkan dan mengabaikan semua peristiwa atau keadaan ekonomi lainnya. (3) Pengukuran income tidak membedakan apakah income merupakan hasil tindakan-tindakan manajemen atau sekedar karena factor kebetulan; pengukuran tidak memberikan informasi untuk menilai efisiensi manajemen. (4) Nilai perusahaan ditentukan dengan menghitung present value dari arus kas dikemudian hari sampai waktu yang tak terhingga, padahal banyak dari arus kas tidak ada hubungannya dengan kegiatan sekarang atau kegiatan masa yang lalu.
            Market valuation, penggunaan data pasar (bursa saham). Dalam hal ini nilai perusahaan pada awal dan akhir tahun merupakan perkalian jumlah saham yang beredar dengan harga pasar pada awal dan akhir tahun.
            Harga pasar mencerminkan keadaan permintaan dan penawaran daripada saham dan tidak berarti bahwa semua saham yang beredar dapat dibeli dengan harga tersebut. Jadi metode ini mempunyai kelemahan-kelemahan yang banyak sekali serupa dengan kelemahan pada konsep capitalization, kecuali mengenai sifat verifiability dari harga saham. Tetapi verifiability sering tidak berarti apabila diingat bahwa harga saham sebenarnya tidaklah bebas dari pengaruh-pengaruh ekstern dan factor-faktor lain yang bisa berubah dengan tak terduga.
            Current cash equivalent (CCE), didefinisikan sebagai harga (pasar)  jual atau realizable price dari assets yang dipunyai perusahaan. Dengan menghitung net assets perusahaan pada awal tahun berdasarkan CCE dan menguranginya dari net assets pada akhir tahun, juga berdasarkan CCE, dan dengan memperhatikan capital transactions, maka income untuk tahun yang bersangkutan dapat dihitung.
            Menjumlah CCE dari assets perusahaan dipandang lebih objektif dan lebih verifiable dari perhitungan nilai kapitalisasi. Perhatian bahwa CCE merupakan opportunity cost values. Nilai kapitalisasi biasanya lebih besar daripada jumlah CCE; sebab kalau tidak, perusahaan dalam posisi yang lebih baik apabila ia menjual assets-nya dipasar. Perbedaan antara nilai kapitalisasi dengan jumlah CCE biasanya disebabkan karena tidak diperhitungkannya goodwill dan intangible assets lainnya. Perbedaan juga bisa terjadi karena taksiran mengenai arus kas dikemudian hari dan tingakat discount yang dipakai (dalam metode capitalization) serta biaya tambahan yang terlibat dalam penjualan assets (dalam metode CCE).
            Selain keuntungan dalam hal verifiability, metode CCE juga memungkinkan pemberian dasar bagi penilaian mengenai alternatif-alternatif yang tersedia bagi manajemen. Tetapi sama halnya dengan metode-metode sebelumnya, CCE tidak memberikan dasar yang kuat bagi prediksi mengenai perubahan-perubahan dikemudian hari karena CCE tidak men-disclose sifat dari perubahan dimasa-masa yang lalu.
            Kelemahan yang besar dari CCE adalah bahwa sering-sering tidak ada pasar untuk kebanyakan assets perusahaan. Untuk aktiva tetap dari kebanyakan perusahaan, harga pasar yang ada, umumnya dalam arti harga likwidasi atau penjualan yang terpaksa. Ini berarti bahwa income yang dihitung sebenarnya sama dengan income apabila perusahaan tersebut dilikwidasi pada akhir tahun dan dalam tahun berikutnya perhitungan likwidasi diulang kembali.
            CCE juga tidak dapat dipergunakan untuk menghitung income dari perusahaan-perusahaan yang hasil usahanya tidak ditentukan oleh assets yang dimiliki (assets dalam pengertian akuntansi konvensional). Misalnya income dari kantor-kantor konsultan dan akuntan.
            Historical input prices, sering-sering dianggap bahwa konsep wealth maintenance terwujud dalam pemakaian input prices atau harga beli, baik yang merupakan historical cost maupun yang current cost (dikurangi depreciation, apabila perlu). Namun demikian, konsep input price tidak mempunyai real-world interpretation karena ketergantungannya pada alokasi depreciation dan concept of realization. Hasil perhitungan income didasarkan pada kaidah-kaidah structural dan bukan realitas. Historical input price sering-sering dianggap sebagai capital maintenance concept, yaitu dimana income merupakan selisih antara penilaian awal dan akhir periode.
            Apabila tidak ada perubahan-perubahan harga, maka capital yang benar-benar ditanamkan akan dapat dipertahankan apabila assets pada akhir periode (yang dinyatakan dengan input prices atau cost) adalah sama dengan assets pada awal tahun. Income  tercermin dari naiknya nilai-nilai setelah memperhitungkan capital transactions dan pembayaran dividen. Income terjadi karena konversi dan input prices ke market values lewat proses penjualan atau pertukaran. Cash dan receivables diterima dalam penukaran dengan assets yang dinilai dengan cost. Oleh karena itu, assets values tertentu pada akhir maupun pada awal tahun (monetary assets) sebenarnya tercermin dengan market values (dalam arti output prices).
            Perhitungan income dengan membandingkan net asset value pada awal dan akhir periode akan menghasilkan konsep income yang all-inclusive, artinya tidak dapat mengklasifikasikan income berdasarkan sumber-sumbernya. Sebagian dari net income terjadi sebagai akibat dari kegiatan operasi yang normal, sebagian lain dari transaksi-transaksi istimewa dan capital gains yang timbul dari perubahan nilai yang tidak diduga. Namun apabila assets dinyatakan dalam historical cost, sebenarnya hanya capital gains atau capital losses yang sudah direalisasi yang dapat dimasukkan.
            Current input prices, apabila inputs dinyatakan dalam current values maka income akan meliputi capital gains atau capital losses karena perubahan harga, tanpa memperhatikan apakah gains atau losses tersebut sudah atau belum direalisasi lewat penjualan atau pertukaran. Ini berarti bahwa income juga meliputi gains atau losses karena menahan suatu assets (oleh karena itu juga disebut holding gains atau holding losses) disamping normal operating profit.
            Maintenance of constant purchasing power, salah satu argumen dari para ahli ekonomi adalah bahwa income harus diukur berdasarkan keadaan nyatanya dan bukan dalam arti mempertahankan nilai-nilai uang (maintaining monetary values). Apabila terjadi perubahan-perubahan dalam tingkat harga-harga umum maka pengukuran income dalam bentuk satuan uang akan menghasilkan pengukuran yang tidak menunjukkan perubahan dalam modal yang sebenarnya (real capital).
Income sebagai pengukuran efisiensi
            Operasi perusahaan yang efisien akan mempengaruhi arus dividen masa kini maupun pemakaian modal yang ditanam yang akan memberikan dividen dikemudian hari. Oleh karena itu para equity holders, khususnya pemegang saham akan menaruh perhatian kepada efisiensi manajemen. Pemegang saham yang sekarang ada, akan berusaha agar manajemen yang sekarang bekerja secara efisien, misalnya dengan memberikan bonus untuk hasil kerja yang efisien, atau mencari manajemen baru apabila manajemen lama tidak bekerja secara efisien. Calon pemegang saham mencoba menilai efisiensi manajemen yang sekarang sebagai dasar untuk membeli atau tidak menbeli saham. Maka dari itu pengukuran efisiensi dijadikan dasar bagi pembuatan keputusan. Tujuan untuk mengukur efisiensi perusahaan tercermin dalam Report of the Study Group on the Objectives of Financial Statements. Laporan ini menyatakan bahwa “suatu tujuan daripada ikhtisar keuanagan adalah memberikan informasi yang diperlukan untuk menilai kemampuan manajemen dalam memanfaatkan sumber-sumber perusahaan secara efektif dalam usaha mencari tujuan perusahaan yang terutama”, dan “proses menghasilkan meliputi usaha yang diarahkan untuk mencapai tujuan perusahaan yang terutama, yakni memberikan kas yang maksimum kepada pemiliknya sepanjang jangka waktu tertentu”.
            Salah satu interpretasi dari efisiensi  adalah kemapuan mengahasilkan output secara maksimum, relative terhadap sejumlah resources tertentu, atau suatu output yang konstan dengan pemakaian resourcesi yang minimum, atau kombinasi dari resources secara optimum untuk memenuhi permintaan tertentu dengan harga tertentu sehingga menghasilkan masimum return bagi pemilik perusahaan. Bagaimana pengukuran income untuk masa yang lalu dapat dipakai sebagai dasar penentuan efisiensi perusahaan? Efisiensi mempunyai arti relatif; berarti bahwa efisiensi hanya mempunyai makna apabila dibandingkan dengan suatu dasar ideal ataupun ukuran-ukuran lain. Efisiensi juga tergantung dari apakah tujuan perusahaan memaksimumkan income atau memberikan return on investment yang layak. Apabila capita employed tetap tidak berubah dari waktu ke waktu maka income bisa merupakan ukuran efisiensi perusahaan. Income dari satu tahun dapat dibandingkan dengan income tahun-tahun sebelumnya, dan penilaian harus diberikan mengenai apakah income dalam tahun-tahun tersebut mencapai, melewati atau berada dibawah sasaran yang tepat. Tetapi kalau capital employed berubah dari satu tahun ke tahun berikutnya, income juga harus dibandingkan denga suatu ukuran atau besarnya yang berubah, misalnya invested capital atau total revenue.
            Net income dibagi dengan invested capital disebut rate of return on investment. Dapat dihitung dengan membagi net income bagi pemegang saham dengan stockholder’ equity (disebut rate of return on stockholders’investment); atau dengan membagi net income ditambah interest (sesudah dikurangi pajak penghasilan) dengan total capitalization, yakni stockholders’equity ditambah long tern debt (pembagian akan menghasilkan rate of return on total equity). Dengan kedua macam pengukuran ini dipandang bahwa pengukuran efisiensi berdasarkan invested capital atau capital employed dapat dilakukan. Kriterium bagi efisiensi tergantung pada standar yang dipergunakan. Apakah akan digunakan: rate of return tahun yang lalu, rate of return yang diterima perusahaan-perusahaan lain yang sejenis, rate yang arbitrer, atau rate yang ditentukan oleh keadaan pasar? Dalam mengukur rate of return perlu diperhatikan bahwa validity dari perhitungannya bukan saja tergantung dari pengukuran income yang secara tepat, tetapi juga kepada pengukuran capital employed yang tepat.
            Dasar lain yang dapat dipakai untuk membandingkan income adalah total revenue untuk periode yang bersangkutan. Meskipun total revenue dapat diukur secara lebih teliti daripada capital invested, tapi penggunaan total revenue mempunyai beberapa kelemahan. Perbandingan net income terhadap sales untuk beberapa tahun hanyalah valid apabila pemakaian kapasitas dalam setiap tahun itu sama atau apabila kapasitas yang tidak terpakai dianggap sebagai ketidakefisienan manajemen.
Konsep-konsep income pada tingkat behavioral
            Konsep-konsep perilaku (behavioral) mengenai income membicarakan proses pengambilan keputusan oleh para investor da kreditur, reaksi pasar saham-saham terhadap pelaporan income yang tercermin dalam harga saham-saham, dan reaksi umpan balik dari manajemen dan akuntan. Harus diingat bahwa semua teori dalam jangka panjang harus mempunyai makna interpretatif. Apabila pelaporan income didasarkan kepada suatu fiksi, teori-teori perilaku tidak dapat membuktikan pentingnya angka income dalam jangka panjang.
Income sebagai Alat Peramal
            Study Group on the Objective of Financial Statements menyatakan bahwa : “suatu tujuan daripada ikhtisar keuangan adalah pemberian informasi yang factual dan dapat diinterpretasikan mengenai transaksi dan kejadian lainnya yang penting untuk prediksi, pembandingan dan penilaian mengenai kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba”.
            Current value dari suatu perusahaan dan niai saham-sahamnya tergantung pada arus kas dikemudian hari bagi pemegang saham. Berdasarkan harapan-harapan ini seorang pemegang saham dapat memutuskan untuk menjual saham-sahamnya atau terus mempertahankan saham-saham tersebut. Seseorang yang pada saat ini belum merupakan pemegang saham dapat memutuskan untuk membeli saham-saham perusahaan tersebut atau menanamkan uangnya dalam bentuk investasi yang lain. Oleh karena itu harapan-harapan mengenai arus kas dikemudian hari sangatlah penting bagi pembuat keputusan mengenai investasi. Apabila ada hubungan antara income yang dilaporkan dengan pembagian dividen, para investor dapat memusatkan perhatian mereka kepada harapan mengenai income dikemudian hari. Untuk kebanyakan perusahaan, peramalan income bagi peramalan harga saham dikemudian hari lebih relevan daripada bagi peramalan dividen dalam jangka pendek; pembagian dividen dalam jangka panjang diasumsikan merupakan factor utama dalam meramalkan pembagian dividen dikemudian hari dan harapan mengenai pembagian dividen merupakan factor yang penting bagi penentuan current value daripada saham atau perusahaan secara keseluruhan.
            Pemegang obligasi dan kreditur jangka pendek juga mempunyai kepentingan terhadap income dimasa yang akan datang. Makin besar harapan mengenai income perusahaan, makin besar pula harapan para kreditur untuk menerima imbalan (bunga) dan pembayaran kembali hutang-hutnag pada saat jatuh tempo.
            Pertanyaannya adalah : apakah pengetahuan mengenai income dimasa lalu dapat membantu meramalkan income dikemudian hari dan dapat juga membantu menilai current value dari perusahaan?. Dalam suatu pengkajian, Werner Frank menyimpulkan bahwa accounting income untuk masa yang lalu lebih memberikan kemampuan untuk meramalkan accounting income dimasa yang akan datang dibandingkan dengan kemampuan income yang dihitung atas dasar current cost (dan bukan historical cost). Namun demikian ia menyarankan bahwa kedua konsep income, baik yang didasarkan kepada historical cost maupun current cost, dapat berguna untuk meramalkan income dimasa yang akan datang berdasarkan historical cost dan current cost. Proyeksi ini mengasumsikan bahwa income dimasa yang akan datang merupakan pengganti (surrogates) daripada suatu konsep income yang mempunyai makna dalam dunia yang nyata atau diasumsikan bahwa konsep income yang dipakai untuk proyeksi atau peramalan penting bagi pengambilan keputusan.
            Banyak investor percaya bahwa peramalan income dikemudian hari itu penting bagi penilaian saham dalam keputusan jual beli, maka banyak penulis beranggapan bahwa mestinya ada validity didalam menyajikan income untuk memungkinkan pengkajian income dimasa yang akan datang.
            Smoothing of income tercermin dalam kebiasaan perusahaan untuk membuat cadangan-cadangan yang besar pada waktu perusahaan mempunyai keuntungan yang besar, dan dengan demikian menekan laba pada waktu-waktu itu sedemikian rupa sehingga laba itu kurang lebih sama dengan angka-angka laba dikemudian hari pada waktu keuntungan perusahaan tidak terlalu besar. Smoothing of income lebih sering menyembunyikan informasi daripada men-disclose-nya. Informasi mengenai turun naiknya kegiatan dari tahun ke tahun justru penting dalam mengevaluasi resiko, dan karenanya ia juga penting bagi proses pengambilan keputusan. Description: Konsep Income Dalam Pelaporan Informasi Keuangan (Teori Akuntansi) Rating: 4.5 Reviewer: Shin Raemun - ItemReviewed: Konsep Income Dalam Pelaporan Informasi Keuangan (Teori Akuntansi)

Reactions:

0 comments:

Post a Comment