Search This Blog

/* Circle Text Styles */ #outerCircleText { /* Optional - DO NOT SET FONT-SIZE HERE, SET IT IN THE SCRIPT */ font-style: italic; font-weight: bold; font-family: 'comic sans ms'; color: #FF0000; /* End Optional */ /* Start Required - Do Not Edit */ position: absolute;top: 0;left: 0;z-index: 3000;cursor: default;} #outerCircleText div {position: relative;} #outerCircleText div div {position: absolute;top: 0;left: 0;text-align: center;} /* End Required */ /* End Circle Text Styles */ /* Circling text trail- Tim Tilton Website: http://www.tempermedia.com/ Visit: http://www.dynamicdrive.com/ for Original Source and tons of scripts Modified Here for more flexibility and modern browser support Modifications as first seen in http://www.dynamicdrive.com/forums/ username:jscheuer1 - This notice must remain for legal use */ ;(function(){ // Your message here (QUOTED STRING) var msg = "Tutorial Blog"; /* THE REST OF THE EDITABLE VALUES BELOW ARE ALL UNQUOTED NUMBERS */ // Set font's style size for calculating dimensions // Set to number of desired pixels font size (decimal and negative numbers not allowed) var size = 24; // Set both to 1 for plain circle, set one of them to 2 for oval // Other numbers & decimals can have interesting effects, keep these low (0 to 3) var circleY = 0.75; var circleX = 2; // The larger this divisor, the smaller the spaces between letters // (decimals allowed, not negative numbers) var letter_spacing = 5; // The larger this multiplier, the bigger the circle/oval // (decimals allowed, not negative numbers, some rounding is applied) var diameter = 10; // Rotation speed, set it negative if you want it to spin clockwise (decimals allowed) var rotation = 0.4; // This is not the rotation speed, its the reaction speed, keep low! // Set this to 1 or a decimal less than one (decimals allowed, not negative numbers) var speed = 0.3; ////////////////////// Stop Editing ////////////////////// if (!window.addEventListener && !window.attachEvent || !document.createElement) return; msg = msg.split(''); var n = msg.length - 1, a = Math.round(size * diameter * 0.208333), currStep = 20, ymouse = a * circleY + 20, xmouse = a * circleX + 20, y = [], x = [], Y = [], X = [], o = document.createElement('div'), oi = document.createElement('div'), b = document.compatMode && document.compatMode != "BackCompat"? document.documentElement : document.body, mouse = function(e){ e = e || window.event; ymouse = !isNaN(e.pageY)? e.pageY : e.clientY; // y-position xmouse = !isNaN(e.pageX)? e.pageX : e.clientX; // x-position }, makecircle = function(){ // rotation/positioning if(init.nopy){ o.style.top = (b || document.body).scrollTop + 'px'; o.style.left = (b || document.body).scrollLeft + 'px'; }; currStep -= rotation; for (var d, i = n; i > -1; --i){ // makes the circle d = document.getElementById('iemsg' + i).style; d.top = Math.round(y[i] + a * Math.sin((currStep + i) / letter_spacing) * circleY - 15) + 'px'; d.left = Math.round(x[i] + a * Math.cos((currStep + i) / letter_spacing) * circleX) + 'px'; }; }, drag = function(){ // makes the resistance y[0] = Y[0] += (ymouse - Y[0]) * speed; x[0] = X[0] += (xmouse - 20 - X[0]) * speed; for (var i = n; i > 0; --i){ y[i] = Y[i] += (y[i-1] - Y[i]) * speed; x[i] = X[i] += (x[i-1] - X[i]) * speed; }; makecircle(); }, init = function(){ // appends message divs, & sets initial values for positioning arrays if(!isNaN(window.pageYOffset)){ ymouse += window.pageYOffset; xmouse += window.pageXOffset; } else init.nopy = true; for (var d, i = n; i > -1; --i){ d = document.createElement('div'); d.id = 'iemsg' + i; d.style.height = d.style.width = a + 'px'; d.appendChild(document.createTextNode(msg[i])); oi.appendChild(d); y[i] = x[i] = Y[i] = X[i] = 0; }; o.appendChild(oi); document.body.appendChild(o); setInterval(drag, 25); }, ascroll = function(){ ymouse += window.pageYOffset; xmouse += window.pageXOffset; window.removeEventListener('scroll', ascroll, false); }; o.id = 'outerCircleText'; o.style.fontSize = size + 'px'; if (window.addEventListener){ window.addEventListener('load', init, false); document.addEventListener('mouseover', mouse, false); document.addEventListener('mousemove', mouse, false); if (/Apple/.test(navigator.vendor)) window.addEventListener('scroll', ascroll, false); } else if (window.attachEvent){ window.attachEvent('onload', init); document.attachEvent('onmousemove', mouse); }; })();
#gb{ position:fixed; top:10px; z-index:+1000; } * html #gb{position:relative;} .gbcontent{ float:right; border:2px solid #A5BD51; background:#ffffff; padding:10px; } function showHideGB(){ var gb = document.getElementById("gb"); var w = gb.offsetWidth; gb.opened ? moveGB(0, 30-w) : moveGB(20-w, 0); gb.opened = !gb.opened; } function moveGB(x0, xf){ var gb = document.getElementById("gb"); var dx = Math.abs(x0-xf) > 10 ? 5 : 1; var dir = xf>x0 ? 1 : -1; var x = x0 + dx * dir; gb.style.top = x.toString() + "px"; if(x0!=xf){setTimeout("moveGB("+x+", "+xf+")", 10);} }
.:[Close][Klik 2x]:.
var gb = document.getElementById("gb"); gb.style.center = (30-gb.offsetWidth).toString() + "px";

Saturday, November 17, 2012

Assets Dan Pengukurannya (Teori Akuntansi)

            Pengukuran diartikan sebagai pemberian nilai-nilai numerikal kepada objek-objek dan peristiwa-peristiwa tertentu untuk menunjukkan atribut-atribut tertentu. Penilaian assets adalah proses pengukuran atribut-atribut keuangan (masa lalu, masa kini, dan masa mendatang) dari pada assets atau kumpulan assets.

            Neraca atau balance sheet, sering juga disebut sebagai a statement of financial position atau ikhtisar keadaan keuangan. Penyebutan ini mengandung arti bahwa neraca merupakan suatu daftar dari sumber-sumber atau resources dan kewajiban-kewajiban atau commitments.
            Salah satu tujuan pelaporan keuangan adalah menyajikan informasi yang memungkinkan para investor dan kreditur membuat prediksi mereka sendiri tentang arus kas perusahaan di kemudian hari. Dengan demikian pengukuran-pengukuran assets harus dievaluasi atas dasar ciri-ciri prilaku mereka disamping kadar interpretatifnya dan kemampuan pengukuran-pengukura dalam menjadi bagian dari struktur pelaporan yang logis.
Sifat assets
            Assets sering diartikan sebagai biaya-biaya yang belum dialokasikan (unallocated costs) atau jumlah-jumlah yang dibawa ke periode-periode yang akan dating.
APB Statement No.4, mendefinisikan assets sebagai sumber-sumber ekonomi (economic resources) dari suatu perusahaan yang diukur dan diakui sesuai dengan prinsip akuntansi yang lazim diterima (generally accepted accounting principles) termasuk deferred charges tertentu yang bukan merupakan resources.
Ciri-ciri assets adalah :
1.      Harus ada hak tertentu atas manfaat-manfaat dikemudian hari atau potensi-potensi jasa di kemudian hari. Hak dan jasa yang telah habis tidak dapat dimasukkan, hak-hak ini haruslah merupakan manfaat yang positif, apabila mempunyai manfaat nihil/negative maka hak ini tidak dapat dikatakan sebagai assets. Cth : gedung yang tidak dapat pakai lagi dan biaya untuk menyingkirnya adalah sama dengan nilai residu-nya, bukanlah  assets.
2.      Hak ini harus menjadi milik orang atau perusahaan tertentu.
3.      Harus ada suatu klaim yang dapat dipaksakan berdasarkan kekuatan hokum. Cth: jasa-jasa yang dapat diambil oleh seseorang, atau suatu perusahaan, bukanlah assets.
Tujuan pengukuran assets
Karena penilaian ini penting dalam proses akuntansi, maka tujuan-tujuan dari pada penilaian ini sama dengan tujuan-tujuan akuntansi.
Penilaian assets bagi pengukuran income
            Accounting income dapat dievaluasi dari ketiga tingkat teori, yakni : bentuk structural atau sintaktis, bentuk semantic atau interpretative, bentuk behavioral atau pragmatis. Dalam bentuk tradisional structural, penilaian assets merupakan suatu langkah denga proses matching. Dalam bentuk yang kedua, interpretasimengenai income menggunakan konsep capital maintenance. Konsep capital maintenance ini mensyaratkan penilaian assets sedemikian rupa sehingga income dapat dihitung berdasarkan kenaikan assets dalam suatu periode. Dari segi behavioral, penilaian harus memungkinkan perhitungan income yang berguna untuk prediksi atau sebagai masukan langsung dala investment decision models.
            Penilaian sebagai suatu langkah dalam proses matching. Dalam penilaian yang konvensional, monetary assets dinilai berdasarkan net realizable values sedangkan  non-monetary assets dinilai berdasarkan nilai masukan atau input-values sampai non-monetary assets ini dialokasikan menjadi biaya dan di-match dengan revenue dari produk yang bersangkutan atau kepada periode yang bersangkutan.  Maka tujuan penilaian non-monetary assets adalah untuk memperoleh dasar bagi perhitungan gross operating margin dan income dari semua transaksi.  Jadi income disini merupakan selisih antara seluruh revenue dengan nilai masuk atau input value dari semua expense yang berkaitan dengan revenue tersebut/expense yang berkaitan dengan periode tersebut.
            Income merupakan hasil dari pada perbandingan antara biaya yang dinilai dengan historical cost dan revenue yang bersangkutan. Dengan adanya perubahan-perubahan nilai satuan uang pengukuran income akan lebih baik apabila historical costs dinilai kembali dalam satuan uang yang mempunyai daya beli yang sama seperti current (arus) revenue. Pemisahan antara income dari holding gains  (memegang keuntungan) atau holding loss juga dapat dilakukan dengan nilai masuk berdasarkan current replacement costs.
            Kelemahan dari proses matching adalah karena banyak kegiatan perusahaan tidak memungkinkan matching secara teliti. Dalam kebanyakan kasus, alokasi daripada penilaian assets baik ke produk maupun ke expense dilakukan secara arbitrer (pengambilan keputusan oleh duabelah pihak).
Konsep-konsep penilaian
            Yang relevan dalam akuntansi adalah nilai-nilai pertukaran (exchange values) yaitu nilai-nilai yang berlaku dipasar, karena adanya transaksi jual beli. Conversion values adalah nilai-nilai yang terbentuk karena factor-faktor produksi.
Konsep-konsep penilaian atau valuation concepts yang diterapkan untuk penilaian assets adalah:
1.      Exchange output values / nilai keluar adalah jumlah kas atau nilai lain yang diterima untuk assets atas jasa atau penjualan
a.      Discounted future cash receipt (mendiskonto penerima kas masa depan).
Cash akan mencerminkan current value. Tetapi apabila suatu assets merupakan penundaan cash, maka untuk mengukur nilai sekarang (present value) maka kas yang akan diterima di kemudian hari (future cash receipts) harus didiskontokan. Misalkan suatu piutang Rp. 1.000.000,- baru akan diterima 3 tahun kemudian. Apabila factor diskontonya 10% /tahun, maka nilai sekarang dari penerimaan tersebut adalah :

                   
Nilai sekarang dari assets merupakan pendiskontoan dari nilai jasa-jasa yang akan datang, oleh karena itu metode ini juga disebut discounted service potentials.
Kelemahnnya : (1) arus kas sangat subjektif sifatnya dan sukar. (2) sulit menentukan tingkat diskonto yang tepat. (3) jumlah dari present value masing-masing assets tidaklah sama dengan nilai perusahaa.

b.      Current output prices
Apabila produk perusahaan diperdagangkan dalam suatu pasar yang teratur maka harga pasar pada saat ini (current market price) merupakan taksiran yang cukup layak mengenai harga pasar di kemudian hari dalam waktu yang tidak terlalu lama. Maka current output prices merupakan suatu subtitusi yang dekat sekali untuk discounted expected cash receipts value daripada inventory yang sudah siap untuk dijual. Namun apabila produk belum dijual dalam waktu dekat, maka current output price baiknya didiskontokan atau dihitung net present value-nya.
Apabila ada tambahan biaya-biaya baik untuk produksi maupun penjualan yang harus dikeluarkan, maka current output prices harus dikurangi dengan biaya-biaya ini untuk mendapatkan approximation daripada current value.
Current output price disebut juga current exit price, mempunyai kelemahan-kelemahan apabila dipergunakan sebagai konsep penilaian secara umum untuk semua assets, diantaranya : (1) hanya berlaku bagi assets yang untuk dijual seperti inventory, aktiva tetap yang sudah tidak dipakai. (2) banyak assets hanyalah akan menjadi harga dimasa mendatang dengan asumsi ceteris paribus.

c.       Current  cash equivalents
Oleh Chambers sebagai konsep pengukuran tunggal bagi semua assets. Current cash equivalents adalah harga-harga assets pada saat benar-benar dapat diwujudkan melalui penjualan yang normal (penjualan yang tidak dipaksa seperti dalam kebangkrutan perusahaan) dan lazimnya dapat diketahui dari catatan harga pasar untuk barang yang sejenis.
Konsep ini sifatnya non-additive, dimana jumlah current cash equivalents dari beberapa assets yang diukur secara terpisah-pisah tidaklah sama dengan current cash equivalents yang secara berkelompok.
d.      Liquidation values
Sama dengan konsep current output prices dan current cash equivalents. Bedanya pada bahwa konsep liquidation values menggunakan harga-harga penjualan dalam keadaan perusahaan likwiditas. Dalam konsep ini harga-harga berada dibawah harga jual yang normal. Konsep ini hanya diterapkan dalam dua keadaan yaitu : (1) apabila assets yang bersangkutan telah hilang kegunaannya, (2) apabila menghentikan usaha dalam waktu dekat sehingga penjualan yang normal tidak dapat dilakukan.

2.       Exchange input values / nilai masuk adalah jumlah nilai kas yang keluar untuk membeli perlengkapan aktiva perusahaan.
Input values ini dapat dinyatakan dalam harga historis yang sebenarnya (actual historical cost), harga sekarang (current cost), harga masa depan (future cost), atau harga yang diperhitungkan (imputed costs) berdasarkan expected output values.
a.       Historical costs konsep yang lazim digunakan dalam akuntansi. Assets biasanya dicatat dengan harga pembelian semula. Harga historis ini kemudian digunakan dalam penyajian ikhtisar keuangan. Maka historical costs merupakan harga pertukaran barang dan jasa pada saat perolehan.
Apabila dalam pertukaran suatu assets diperoleh melalui pemberian non-monetary assets, maka nilai tukarnya ditentukan oleh current value dari assets yang diberikan.
Historical costs mempunyai keuntungan dalam konsep penilaian non-monetary assets. Keuntungan yang terutama adalah sifatnya yang verifiable. Costs merupakan harga yang disepakati oleh pembeli dan penjual dalam suatu pasar yang bebas. Perusahaan seharusnya dapat membeli assets dan jasa dengan harga yang lebih rendah pada penjual yang lain.
Kelemahannya adalah karena nilai assets bagi perusahaan dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu. Setelah suatu periode yang cukup panjang historical costs mungkin akan kehilangan maknanya sebagai ukuran daripada kwantitas resources yang tersedia bagi perusahaan.
b.      Current input costs merupakan harga pertukaran yang harus dikeluarkan hari ini untuk memperoleh assets yang sama. Apabila suatu pasar yang baik memang ada (dimana assets yang sama dapat dibeli dan dijual) maka harga tukar dapat diperoleh dan dihubungkan dengan assets yang dimiliki. Harga ini merupakan nilai maksimum bagi perusahaan kecuali jika net realizable value lebih besar.
Keunggulannya : (1)current costs merupakan jumlah yang harus dibayar oleh perusahaan untuk mendapatkan assets. (2)matching ini memungkinkan pemisahan antara holding gains atau holding losses dari pengakuan l/r operasional.
Kelemahannya : (1)konsep ini kehilangan objektifitas.
c.       Discounted future costs, konsep ini relevan dalam pembuatan keputusan untuk membeli jasa-jasa dalam bentuk suatu himpunan sekarang atau dalam jumlah yang kecil-kecil pada saat dibutuhkan.
d.      Standard costs merupakan suatu penilaian berdasarkan biaya apa yang seharusnya dikeluarkan dalam keadaan produksi pada tingkat efisiensi dan kapasitas tertentu. Penilaian atas dasar standard costs merupakan konsep penilaian input yang didasarkan atas harga pertukaran yang tepat untuk barang-barang dan jasa-jasa dalam jumlah yang tepat.
Biaya-biaya yang tidak efisien diabaikan. Biaya yang tidak efisien dan kapasitas yang menganggur merupakan losses bagi perusahaan dalam masa yang lalu atau masa sekarang. Losses jangan dibawa ke periode yang akan datang, karena losses tidak akan menghasilkan arus kas di kemudian hari.
Suatu produk yang dihasilkan secara efisien tidak harus bernilai lebih rendah apabila ia dihsilkan dengan metode yang kurang efisien. Nilai suatu produk tergantung pada future service potential-nya atau harga jual yang diharapkan, dan bukan kepada berapa besar biaya yang telah dikeluarkan atau seharusnya dikeluarkan.
Tepat atau tidaknya konsep standard costs sebagai ukuran mengenai nilai tukar masukan atau input exchange values tergantung dari jenis standard cost yang digunakan. Standar yang ideal mungkin berguna bagi bagi tujuan-tujuan manajerial, akan tetapi standard cost ini mempunyai kecendrungan menurunkan (understate) nilai assets karena biaya-biaya normal yang berkaitan dengan inefisiensi dan kapasitas menganggur. Standar-standar yang memperhitungkan inefisiensi yang normal akan lebih tepat bagi penilaian assets.
e.       Absortion costing dan direct costing
Absortion costing kalau menggunakan konsep biaya masukan total, maka semua biaya yang diperlukan dalam produksi harus dimasukkan dalam penilaian assets yang diproduksi (input cost yang tidak dapat dihindari dan harus timbul dalam proses produksi mesti diperhitungkan dalam penilaian assets yang diproduksi). Konsep absortion costing merupakan konsep yang tepat baik ditinjau dari segi service potential maupun matching.
Dari segi service potential, semua biaya dianggap membawa manfaat bagi perusahaan karena dapat dikonversikan menjadi uang melalui proses penjualan dan pengihan yakni proses usaha yang normal. kalau dari segi matching full costing memungkinkan dibawanya biaya-biaya ke periode yang akan datang untuk di-match dengan revenue.
Direct costing lebih tepat disebut sebagai variable costing atau  marginal costing, hanya memperhitungkan variable costing untuk menilai assets yang diproduksi. Keuntungan utama dari direct costing adalah memberikan informasi kepada manajemen untuk membuat keputusan dan bagi pengendalian biaya.
Menurut definisi, variable costing adalah biaya-biaya yang berubah-ubah tergantung dari jumlah produksi atau penjualan, biaya-biaya ini tidak akan terjadi apabila output atau penjualan pada titiknihil. Biaya-biaya dikeluarkan dengan harapan akan dapat diperolehnya manfaat-manfaat sekarang maupun dikemudian hari, baik dalam peningkatan revenue maupun penurunan costs di kemudian hari. Apabila biaya-biaya ini timbul dari  inefficiency atau dari kekeliruan menaksir manfaat-manfaat dimasa mendatang, barulah biaya-biaya ini dibebankan kerugi-laba pada waktu di-accrue­, dan tidak dimasukkan sebagai biaya dari suatu produk.
Ada 3 alasan mengapa variable costing untuk tujuan pelaporan ekstern dianggap lebih unggul: (1)net income dianggap lebih mempunyai makna apabila inventories dihitung atas dasar variable costs apabila produksi tidak sama dengan jumlah penjualan dalam setiap periode, (2)variable costing menghilangkan kemampuan manajemen untuk mempengaruhi atau bahkan menyesatkan pelaporan net income melalui kebijakan produksi, (3)dalam hal tertentu, jika terjadi kapasitas yang menganggur, fixed costs tidak membawa manfaat untuk periode yang akan datang.
3.      Lower of cost or market dikenal juga sebagai cost or market whichever is lower(comwil) merupakan campuran dari konsep penilaian masuk dan penilaian keluar.
Konsep ini dikenal dalam akuntansi pada abad XIX. Pada awalnya konsep ini dianut dalam hubungan dengan penekana yang diberikan kepada neraca sebagai laporan bagi para kreditur. Tanpa laporan yang dapat dipercaya (karena pada waktu itu perusahaan masih sangat tertutup dan informasi akuntansi marupakan rahasia yang sangat besar) para kreditur memberikan penekanan kepada nilai assets yang paling rendah. Oleh karena itu pandangan yang konservatif dianggap sebagai sikap yang paling aman dalam penilaian pos-pos neraca.
Dengan bergesernya penekanan kepada ikhtisar l/r, maka konsep comwil ini mendapatkan makna besar. Akibat dianutnya comwil maka income juga dinyatakan secara konservatif. Dengan diturunkannya penilaian assets pada akhir periode maka net income juga menjadi rendah. Disini semua kemungkinan kerugian langsung diperhitungkan dalam penentuan net income, tetapi sebaliknya, kemungkinan untung atau laba ditunda pengakuannya sampai saat penjualan atau realisasi.
Comwil pada dasarnya adalah penerapan suatu prosedur akuntansi yang sudah lazim diterima. Comwil merupakan aplikasi dari konsep-konsep yang ada dengan mengambil segi-segi “baiknya” (electic).
Comwil secara formal diakui oleh AICPA, AAA, SEC dan FASB di Amerika, dan juga oleh profesi akuntansi dinegara-negara lain, termasuk Indonesia. Sebagai suatu konsep, comwil  ini sebenarnya tidak mempunyai tempat dalam teori akuntansi karena hal-hal berikut :
·         Sebagai suatu metode yang konservatif, comwil mempunyai kecenderungan menekan (understate) jumlah assets. Understatement tidak merugikan para kreditur tetapi jelas penipuan bagi pemegang saham maupun calon investor.
·         Penilaian yang konsevatif terhadap assets pada saat ini akan menyebabkan penilaian yang liberal pada net income di kemudian hari.
·         Meskipun perusahaan menerapkan comwil secara konsisten dari tahun ke tahun, namun secara internal, comwil tidaklah konsisten.
·         Comwil juga diterapkan baik dalam turunnya cost maupun karena turunnya utility dari assets tersebut, misalnya karena using (obsolete).
·         Comwil menunda pengakuan untung atau laba yang belum direalisasi. Realisasi dianggap baru terjadi apabila ada pertukaran.
Evaluasi dari konsep-konsep penilaian
            Dalam penilaian assets tidak ada konsep tunggal atau prosedur yang ideal bagi penyajian suatu ikhtisar keadaan keuangan, bagi penentuan besarnya income, atau bagi pengujian informasi lain yang relevan bagi para kreditur, investor atau pemakai-pemakai yang lain
            Dari segi pandangan structural historical cost valuation-lah yang paling ideal sepanjang diterapkan dalam kerangka tata buku berpasangan. Namun konsep penilaian lain juga dapat diterapkan dalam kerangka ini.
            Dari segi pandangan interpretative, penilaian assets dimaksudkan sebagai pengukuran resources yang ada pada perusahaan dalam menghasilkan penerimaan kas dikemudian hari. Historical cost valuation justru mempunyai kelemahan bagi tujuan interpretative, dan current replacement costs mengharuskan interpretasi yang lebih baik. Net realizable value dan current cash equivalents juga memungkinkan interpretasi apabila penilaian ini didasarkan pada harga-harga yang berlaku dipasar. Mckeown mendemonstrasikan bahwa current cash equivalents dan current replacements costs berbeda satu sama lain dan juga berbeda dari historical costs secara material, dan karena dari setiap konsep ini tidak dapat dipakai sebagai pengganti (surrogate) untuk konsep lainnya.
            Dengan menggunakan investment models yang normative, tujuan penilaian assets adalah untuk memberikan informasi yang memungkinkan prediksi mengenai penggunaan kas di kemudian hari untuk memperoleh resources yang serupa bagi kelangsungan perusahaan, dan untuk tujuan prediksi mengenai penerimaan kas di kemudian hari. Current replacement costs yang diperoleh dari pasar-pasar yang ada, dapat mencerminkan arus kas yang diperlukan untuk menggantikan fasilitas yang ada. Jadi sebagai alat prediksi mengenai future cash outflow, current input costs dan expected future input price lebih penting daripada input values dimasa yang lalu.
            Pemisahan antara fixed costs dan variable costs juga dapat membantu prediksi terhadap cash flows dimasa yang akan datang. Net realizable value dan current cash equivalents akan relevan untuk berbagai tujuan prediksi. Tetapi apabila manfaat untuk masa mendatang sangat tidak pasti, penilaian masukan mungkin akan dapat menjadi subtitusi yang layak.
Konsep penilaian
Keadaan-keadaan dimana konsep tersebut dapat diterapkan
Exchange output values
Apabila ada bukti-bukti bahwa output value tersedia sebagai petunjuk mengenai penerimaan-penerimaan kas dikemudian hari.
1.      Discounted future expected cash receipts atau discounted service potentials
Apabila penerimaan kas yang diharapkan atau eqwivalennya diketahui atau dapat ditaksir dengan cukup teliti, dan apabila waktu untuk menunggu arus kas relative panjang.
2.      Current output values
Apabila harga penjualan sekarang menunjukkan output price dikemudian hari.
3.      Current cash equivalents
Apabila alternative yang terbaik adalah penjualan secara normal.
4.      Liquidation values
Apabila perusahaan tidak dapat menjual produknya melalui saluran pasar yang normal atau apabila assets tersebut kehilangan kegunaannya.

Exchange input values
Apabila tidak ada bukti-bukti yang cukup megenai tersedianya output values atau apabila output values tidak memberikan indikasi mengenai kebutuhan kas dimasa yang akan datang.
1.      Historical cost
Sebagai ukuran daripada current input value apabila assets baru saja diperoleh.
2.      Current input costs
Apabila bukti-bukti yang verifiable mengenai current input values dapat diperoleh.
3.      Discounted future costs
Apabila jasa-jasa kemudian (yang harganya telah diketahui atau dapat ditaksir) dibeli dimuka sekaligus (dalam suati gunggungan) dan bukannya dibeli secara sedikit-sedikit apabila dibutuhkan.
4.      Standard costs
Apabila ini merupakan current costs dengan kondisi efisiensi dan pada kapasitas produksi yag normal.
5.      Direct costing
Apabila assets dapat diproduksi di kemudian hari tanpa menyebabkan kenaikan dalam total fixed costs dimana yang akan datang, atau apabila pemakaian fasilitas tetap yang sekarang (current fixed facilities) tidak akan menaikkan revenue di kemudian hari.

Konsep yang eclectic :

The lower of cost or market
Merupakan konsep yang paling lemah diantara semua konsep diatas.
Description: Assets Dan Pengukurannya (Teori Akuntansi) Rating: 4.5 Reviewer: Shin Raemun - ItemReviewed: Assets Dan Pengukurannya (Teori Akuntansi)

Reactions:

0 comments:

Post a Comment